Walmart vs Amazon

Belajar dari Pertarungan Walmart vs Amazon

Dunia ritel  terus berubah, baca “Perubahan di dunia ritel”. Bangkrutnya Toys R Us yang merupakan salah satu penjual mainan terbesar di dunia adalah salah satu tanda terjadinya perubahan di dunia ritel. Bagaimana kita bisa belajar dari pertarungan Walmart vs Amazon?

Walmart

Walmart adalah salah satu perusahaan ritel terbesar di dunia. Saat ini Walmart memiliki sekitar 4700 toko di Amerika Serikat (AS), dengan jumlah karyawan sekitar 1,5 juta orang. Bandingkan dengan Amazon yang hanya memiliki sekitar 340 ribu orang.

Berdirinya Amazon pada tahun 1995 dan berkembang dengan sangat pesat sampai sekarang, tentunya membuat Walmart sedikit kelimpungan (baca waspada menghadapi persaingan baru).

Walmart pada awal berdirinya adalah hanya sebuah “Dime Store” atau toko yang menyediakan barang-barang dengan harga yang murah. Sampai akhirnya mengembangkan konsep “Superstore” yang sebenarnya hampir sama dengan konsep hypermarket yang dikenal di Indonesia.

Pada tahun 1990an, Walmart sempat masuk ke Indonesia bekerja sama dengan Lippo Group. Akhirnya gagal dikembangkan dan tutup.

Amazon

Amazon memulai bisnisnya langsung di dunia maya. Menjual buku yang mungkin menyebabkan banyaknya toko buku yang tutup. Dalam perkembangannya Amazon bukan hanya menjual buku, hampir semua barang dijual olehnya serta masuk juga ke dalam bisnis Cloud dan Internet Provider.

Kekuatan utama Walmart adalah pada harga barang yang murah, terutama barang yang merknya dimiliki oleh Walmart sendiri (house brand). Bukan hanya merk, Walmart juga memastikan kualitas produk. Pabrik produk-produk ini banyak berada di negara berkembang seperti Tiongkok dan kalau tidak salah beberapa perusahaan di Indonesia juga ada yang menjadi suplier Walmart.

Kekuatan dari ritel daring adalah biaya yang dikeluarkan akan lebih sedikit jika dibandingkan dengan ritel tradisional. Karena ritel daring tidak perlu mengeluarkan biaya sewa atau pembangunan toko serta membayar karyawan untuk mengelola toko tersebut.

Amazon dengan biaya yang lebih murah dan kekuatan pembelian, bisa memberikan harga yang lebih murah. Ditunjang juga dengan geografi AS yang merupakan satu benua sehingga lebih mudah dalam melakukan pengiriman.

Pertarungan

Walmart tidak tinggal diam dan mengembangkan juga toko daring versi mereka. Terakhir Walmart membeli Jet.com, sebuah perusahaan ritel yang mempunyai target pasar generasi milenial. Juga tidak ketinggalan bekerja sama dengan Google agar dapat meningkatkan hasil pencarian terhadap produk yang mereka miliki.

Google sendiri dikarenakan begitu banyaknya barang yang tersedia di Amazon. Sedikit banyak mengalami kekhawatiran, karena semakin banyak orang yang langsung mencari barang yang ingin mereka beli di Amazon. Tidak lagi menggunakan mesin pencari Google.

Amazon belum lama ini membeli Wholefoods, sebuah perusahaan ritel tradisional yang banyak menyediakan barang-barang segar.

Strategi Walmart untuk masuk ke pasar online dan Amazon yang masuk ke pasar offline, memperlihatkan bahwa sebenarnya pertarungan antara online dan offline masih belum berakhir.

Masih ada pelanggan yang lebih suka berbelanja ke pasar tetapi banyak juga yang lebih suka berbelanja secara online. Barang segar, sulit untuk bisa dipasarkan secara online, karena penanganan yang tidak mudah.

Namun bisa saja dijual online dan diambil di toko yang terdekat. Penggabungan antara online dan offline, ritel seperti Hypermart, Alfa dan Indomaret juga sudah mulai menerapkan hal ini.

Pertarungan antara Walmart vs Amazon, bisa memberi pelajaran bahwa di masa depan kemungkinan gabungan ritel online dan offline yang akan menguasai pasar. Dengan segala kemungkinan kombinasinya.

Referensi :  Wharton ; Business Insider

 

Salam

Hanya Sekadar Berbagi

Ronald Wan

Share jika Bermanfaat
  • 8
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
  •  
  •  

Author: Ronald Wan

@Pseudonym | Love To Read | Try To Write | Observant | email : [email protected]