unicorn butuh modal asing

Unicorn Butuh Modal Asing, Mengapa?

Unicorn dalam usaha rintisan (startup) adalah julukan bagi usaha rintisan yang bernilai minimal USD 1 miliar atau sekitar 14 triliun rupiah (kurs Rp 14.000,- per USD). Salah satu cara untuk membesarkan usaha rintisan adalah “bakar uang” karena itu Unicorn butuh modal asing, mengapa?

Bakar Uang

Sebuah usaha rintisan perlu cepat dalam mengembangkan usaha terutama kalau kita bicara teknologi. Uber misalnya memiliki model bisnis berbagi tumpangan untuk pelanggannya. GoJek dan Grab mungkin boleh dibilang meniru model bisnis ini.

Terlihat bahwa tidak sulit untuk meniru sebuah model bisnis walaupun teknologi yang digunakan cukup tinggi. Jika GoJek dan Grab tidak cepat menguasai pasar Asia Tenggara bisa jadi Uber akan menguasai.

Walaupun pada kenyataannya tidak sesederhana itu, pendalaman dan pengetahuan tentang pasar yang dimasuki juga penting. Uber pada awal masuk ke Indonesia salah satu masalah utama yang menyebabkan penetrasinya kurang cepat adalah memaksa pengguna untuk menggunakan kartu kredit tanpa opsi bayar tunai. Sedangkan jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia masih terbatas.

Grab menyadari hal ini dan menerapkan pembayaran tunai. Inilah salah satu penyebab saya lebih dulu menggunakan aplikasi Grab sebelum berikutnya Uber.

Balik ke “bakar uang” pada sekitar tahun 2016 pertama kali saya menggunakan Grab, saya diberikan bonus senilai Rp. 500 ribu. Sedangkan Uber setelah menerapkan pembayaran tunai memberi bonus sekitar Rp 150 ribu saat saya pertama kali menggunakan.

Coba bayangkan jika ada 10 ribu orang diberikan bonus yang sama maka butuh dana Rp 5 miliar rupiah bagi Grab sedangkan Uber membutuhkan dana Rp 1,5 miliar. Karena mereka harus tetap membayar ongkos perjalanan kepada pengemudi walau gratis bagi pengguna.

Belum lagi bonus untuk pengemudi yang katanya pada masa awal bisa memperoleh penghasilan lebih dari Rp 10 juta per bulan. Ditambah setelahnya diskon-diskon yang lumayan besar untuk tetap mempertahankan pengguna. Disertai dengan perang diskon antara Uber dan Grab pada masa itu.

GoJek juga melakukan hal yang sama untuk pengemudi motor. Tetapi GoJek lebih cerdik dan mengembangkan GoSend dan GoFood yang bisa menjadi pendapatan baru. Layanan yang akhirnya diikuti oleh Grab.

Semua ini dibutuhkan agar bisa dengan cepat menambah pengguna, pengemudi dan resto (GoFood) sehingga usaha bertambah besar sebelum orang lain besar. Dibutuhkan modal yang sangat banyak agar bisa bertahan dan membesarkan usaha rintisan. Modal asing masuk dan menyuntik dana.

Venture Capital

Venture capital atau modal ventura adalah perusahaan yang berani untuk menanamkan dananya kepada usaha rintisan karena melihat prospek ke depan. Usaha rintisan sulit untuk bisa mendapatkan pinjaman dari bank karena tidak memiliki jaminan atau paling mungkin adalah meminjam ke bank dengan jaminan harta pribadi.

Pemodal Indonesia pada awal Unicorn seperti GoJek, Tokopedia, Traveloka dan Bukalapak berkembang belum begitu paham dengan usaha seperti ini. Sekarang ini sudah lumayan mengerti, terbukti dengan Grup Djarum yang coba membesarkan Blibli.com dan Tiket.com.

Astra yang ikut serta dalam pendanaan Gojek, Emtek (pemilik SCTV) yang ikut di dalam Bukalapak, Lippo dengan Matahari Mall, OVO dan Grab serta masih ada beberapa yang lain. Sehingga pemodal asing seperti Softbank, Alibaba dan lainnya masuk terlebih dahulu ke Unicorn Indonesia.

Jumlah Modal  di Indonesia Terbatas

Alasan yang kedua adalah jumlah modal di Indonesia terbatas. Menurut Cbinsights nilai atau valuasi Gojek Januari 2019 adalah USD 10 miliar, Tokopedia bernilai USD 7 miliar. Traveloka USD 2 miliar dan Bukalapak bernilai USD 1 miliar.

Baca “Ternyata Ada Unicorn yang Bisa Terbang

Jika ditotal maka nilai empat Unicorn Indonesia adalah USD 20 miliar atau 280 triliun rupiah (kurs Rp. 14.000,- per USD). Nilai itu adalah sekitar 11,5 persen dari total APBN Indonesia yang bernilai  sekitar 2.439 triliun rupiah.

Sekitar 3,9 persen dari kapitalisasi (nilai total perusahaan yang tercatat di bursa) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bernilai 7.218 triliun rupiah per 11 Januari 2019 (sumber). Sekitar 43 persen dari kapitalisasi BCA yang merupakan bank dengan kapitalisasi terbesar di ASEAN yang bernilai USD 46,017 miliar per Desember 2018 (sumber).

Bisa dilihat bahwa butuh modal besar untuk membesarkan usaha rintisan sedangkan modal di Indonesia terbatas.  Apalagi GoJek yang telah merambah ke Bangladesh, Vietnam, Singapura dan sebentar lagi Filipina.

Pengetahuan dan Pengalaman

Masuknya pemodal asing ke usaha rintisan adalah investasi langsung yang masuk ke Indonesia. Bukan seperti pemodal asing yang membeli surat utang dan saham di mana mereka bisa sewaktu-waktu menarik kembali modal mereka.

Jika usaha rintisan belum berhasil dan memberikan keuntungan, bagaimana mereka menarik modal mereka? Beda dengan pinjaman, jika mereka menarik modal maka akan rugi bahkan bisa jadi tidak mendapat apa-apa jika usaha rintisan itu gagal berkembang akibat perseteruan modal.

Karena ada kepentingan keuntungan maka selain modal biasanya para pemodal ini juga membawa pengetahuan dan pengalaman. Alibaba investasi di Tokopedia maka Alibaba bisa membagi pengalaman mereka membesarkan TaoBao di China serta mungkin juga teknologi.

Dengan adanya pengetahuan dan pengalaman, maka usaha rintisan bisa melandaikan kurva pembelajaran. Mengurangi proses coba-coba atau “trial and error” sehingga bisa dengan cepat berkembang.

Tujuan Pemodal Asing

Semua investasi pasti ingin mendapatkan untung. Melihat yang sudah terjadi pemodal usaha rintisan baru bisa mendapatkan keuntungan jika usaha rintisan sudah besar dan semoga untung.

Mengapa saya bilang semoga untung? Uber per November 2018 masih mengalami kerugian senilai USD 1,1 miliar. Namun akan segera melakukan IPO (Initial Public Offering) atau menjual sahamnya ke umum melalui bursa. Nilai Uber diperkirakan USD 76 miliar dan diproyeksikan akan mendapatkan dana sebesar USD 120 miliar dari IPO.

Artinya usaha rintisan yang belum untung juga sudah bisa menghasilkan untung bagi pemodal. Selain IPO harapan pemodal adalah ada perusahaan besar yang mencaplok usaha rintisan seperti Whatsapp yang dibeli Facebook senilai USD 4 miliar.

Walaupun saham dijual di pasar modal luar negeri tetapi uang penjualan tersebut tetap akan kembali ke negara di mana bisnis mereka berada karena biasanya akan digunakan untuk pengembangan usaha.

Tetapi memang mungkin tidak semua uang kembali ke Indonesia bagi usaha rintisan seperti GoJek yang telah ekspansi ke luar negeri. Sebagian dari penjualan saham pastinya akan digunakan juga untuk pengembangan usaha di negara lain.

Referensi : Media dalam dan Luar Negeri

Salam

Hanya Sekadar Berbagi

Ronald Wan

Bagikan Jika Bermanfaat
  • 5
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  • 1
  •  
Posted in Ekonomi Terkini, Opini Ekonomi and tagged , , , , , , .

@Pseudonym | Love To Read | Try To Write
Observant