Dolar AS

Penyebab Kurs Dolar AS Melemah ke Kisaran 13.000-an Rupiah

Banyaknya bahan baku, bahan penolong dan juga migas yang masih harus impor. Menyebabkan suka atau tidak suka pergerakan dolar AS menjadi salah satu bahan pertimbangan pengusaha dan pemerintah harus memperhitungkan kurs dolar AS ke Rupiah.

Tahun 2018 kurs dolar AS ke Rupiah sempat menembus Rp. 15.000,- walau di akhir tahun akhirnya kurs dolar AS cukup stabil di kisaran Rp 14.000-an malah cenderung di bawah Rp. 14.500,-

Seperti yang pernah dibahas sebelumnya ada faktor yang menyebabkan dolar AS menguat terhadap mata uang dunia bukan cuma Rupiah di 2018 (faktor global). Namun ada juga faktor yang menyebabkan Rupiah melemah terhadap dolar AS (faktor dalam negeri).

Baca ” Apakah Dolar Menguat atau Rupiah Melemah?

Beberapa faktor yang menyebabkan Dolar AS melemah adalah :

Bank Indonesia (BI) meluncurkan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF)

Peluncuran sarana untuk lindung nilai dolar AS membuat tidak semua orang yang membutuhkan dolar AS atau mata uang asing lain, akan perlu membelinya di pasar umum. Sehingga mengurangi permintaan dolar AS di pasar umum yang otomatis mengurangi gonjang ganjing kurs dolar AS ke Rupiah.

Mengutip situs BI, DNDF adalah transaksi derivatif valuta asing terhadap rupiah yang standar (plain vanilla) berupa transaksi forward dengan mekanisme fixing yang dilakukan di pasar domestik. Mekanisme fixing adalah mekanisme penyelesaian transaksi tanpa pergerakan dana pokok dengan cara menghitung selisih antara kurs transaksi forward dan kurs acuan\pada tanggal tertentu yang telah ditetapkan di dalam kontrak (fixing date). Kurs acuannya menggunakan JISDOR untuk mata uang dolar AS terhadap rupiah dan Kurs Tengah Transaksi BI untuk mata uang non-dolar AS terhadap rupiah. Penyelesaian transaksi DNDF tersebut wajib dilakukan dalam mata uang Rupiah.

Jadi transaksi DNDF hanya menutup selisih kurs tanpa serah terima mata uang asing. Serta dilakukan dalam mata uang Rupiah.

Inflasi Januari 2019 terjaga

Inflasi adalah salah satu indikator yang dilihat oleh investor. Jika negara tidak berhasil menjaga inflasi maka salah satu hukuman yang diterima adalah pelemahan mata uang. Hal ini terjadi pada Turki ( Baca : Lira Turki Ambruk apa penyebabnya?) dan Argentina (Baca : Apa penyebab krisis Argentina?) pada tahun 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 1 Februari 2019 mengumumkan bahwa inflasi Januari 2019 adalah sebesar 0,32 persen. Dibandingkan dengan Januari 2018 maka inflasi tercatat 2,32 persen.

Menurut Suhariyanto kepala BPS, inflasi Januari 2019 lebih baik dibanding Januari 2018 yang mencapai 0,62 persen. Kompas.com

Keberhasilan pemerintah dalam menjaga inflasi sehingga mendorong Rupiah menguat.

Masuknya Dana Asing ke Indonesia

Tribunnews.com (1 Feb 2019) mengatakan bahwa dana asing yang masuk ke pasar modal Indonesia menurut data Bloomberg adalah sebesar 1,79 miliar dolar AS. Dibandingkan dengan dana asing yang masuk ke Filipina yang hanya sebesar 340,2 juta dolar AS tentu jauh lebih besar.

Masuknya dana asing ke pasar modal Indonesia dan paling tinggi di ASEAN menunjukkan kepercayaan terhadap ekonomi Indonesia. Walaupun Indonesia sedang mengalami tahun politik.

The Fed Dovish

Jika bank sentral cenderung agresif meningkatkan suku bunga istilah dalam pasar keuangan adalah hawkish (seperti elang yang mengincar mangsa). Kebalikannya jika cenderung mempertahankan suku bunga atau malah menurunkan maka di sebut dovish (merpati simbol perdamaian.

Hasil rapat dewan gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga bank di kisaran 2,25 persen sampai 2,5%.

Ditambah lagi dengan keterangan Ketua The Fed Jerome Powell kepada pers yang mengatakan bahwa The Fed akan bersabar sambil mencari tahu berapa tingkat suku bunga yang pas sesuai dengan perkembangan ekonomi.

Hal ini diterjemahkan oleh pelaku pasar sebagai tanda bahwa kemungkinan besar The Fed akan mempertahankan suku bunga sepanjang tahun 2019. Sehingga dolar AS tidak lagi dikejar sebagai safe heaven.

Selain itu dalam pernyataan tiga paragraf The Fed terlihat tidak akan agresif untuk mengurangi portofolio mereka. Pengurangan portofolio The Fed yang membesar karena kebijakan quantitative easing akan mengurangi jumlah dolar AS yang beredar sehingga bisa menyebabkan dolar AS menguat ke mata uang negara lain. CNBC

Risiko Dalam Negeri

Satu hal yang masih harus menjadi fokus pemerintah Indonesia adalah defisit transaksi berjalan. Ini adalah risiko yang menghambat penguatan Rupiah.

Walau sekarang ini performa Rupiah terhadap dolar AS adalah terbaik ketiga di Asia menurut CNBCIndonesia.com

 

Salam

Hanya Sekadar Berbagi

Ronald Wan

Bagikan Jika Bermanfaat
Posted in Ekonomi Terkini and tagged , , , , .