negosiasi Amerika Serikat dan China

Seberapa Besar Pengaruh Perang Dagang ke Ekonomi AS dan China?

Tensi perdagangan dunia terus meningkat, Trump baru saja mengancam akan mengenakan tarif bagi sekitar US$ 267 miliar barang eks China. China tidak tinggal diam dan melaporkan AS ke World Trade Organization (WTO). Seberapa besar pengaruh perang dagang ke ekonomi AS dan China?

Sekarang ini semua investor dan pelaku ekonomi khawatir akan prospek ekonomi dunia ke depan. Sebuah kekhawatiran yang wajar karena memang sudah lama tidak terjadi perang dagang skala global secara terbuka.

Capital Economics yang diwakili oleh Kepala ekonom global mereka Andrew Kenningham mengatakan bahwa pengaruh perang dagang ke ekonomi AS dan China sangat terbatas. Inilah penyebabnya:

Pertama

Selama kebijakan fiskal tidak ketat maka tarif belum tentu mengurangi jumlah permintaan. Selain itu tarif mungkin saja membuat aliran perdagangan berubah arah ke negara lain dibandingkan dengan menurunnya penerimaan.

Menurut saya menguatnya US$ akan sedikit mengurangi implikasi tarif yang diterapkan.

Seperti yang dikatakan Andrew pada bagian kedua, pelaku pasar bisa mengalihkan ekspor dan impor ke negara lain demi mengurangi efek perang dagang. Ini merupakan suatu kesempatan dan juga ancaman bagi Indonesia.

Indonesia bisa menjadi pengganti China untuk ekspor ke AS namun di sisi lain bisa menyebabkan banjirnya barang impor.

Kedua

Elastisitas permintaan barang asal China sangat rendah dan banyak dari barang ekspor AS bisa dialihkan ke negara lain.

Selain itu melemahnya nilai tukar Yuan juga sudah mengurangi efek sanksi tarif AS.

Ketiga

Ekspor tidak banyak menyumbang kepada GDP kedua negara. Ekspor hanya menyumbang sekitar 20% dari GDP China dan hanya 12% bagi GDP AS.

Keempat

Perdagangan bilateral AS dan China menyumbang lebih kecil lagi ke GDP (dibandingkan dengan ekspor). Perdagangan dengan AS hanya menyumbang sekitar 2,5% dari GDP China dan sebaliknya perdagangan dengan China hanya menyumbang 1% dari GDP AS.

“Kalau perdagangan kedua negara turun sebanyak 20% dan angka ini sudah melebihi perkiraan. Maka penurunan GDP China hanya sebesar 0,5% dan AS hanya 0,2%” kata Andrew Kenningham

Sangat kecil dan bukan menjadi alasan untuk panik.

Kelima

Inflasi AS dan China tidak akan banyak terpengaruh perang dagang. Inflasi adalah salah satu indikator utama dalam kebijakan moneter. Sehingga tidak ada alasan bagi Bank Sentral untuk menaikkan suku bunga secara agresif untuk mengantisipasi perang dagang.

“Memang sepertinya tidak logis ketika punya pemikiran bahwa konflik perdagangan dua negara dengan ekonomi terbesar hanya akan sedikit mempengaruhi ekonomi dunia.”

“Perlu diketahui bahwa nilai gabungan ekspor AS dan China memang sekitar 22% dari ekspor global. Namun perdagangan kedua negara hanyalah bernilai 3,2% dari perdagangan dunia.” Lanjut Andrew Kenningham.

**

Secara psikologis pelaku pasar masih khawatir dengan sejarah krisis ekonomi yang terjadi setiap 10 tahun sekali. Mungkin ini yang menyebabkan reaksi yang berlebih dan cenderung panik terhadap perang dagang. Tetapi memang tidak bisa dinafikan perang dagang menambah ketidakpastian ekonomi global.

Ketidakpastian dan ketakutan yang membuat pelaku pasar keluar dari negara berkembang dan pulang kampung ke AS.

Kalau melihat paparan di atas seharusnya kita tidak panik karena implikasi perang dagang AS dan China tidaklah sebesar yang dibayangkan.

Namun tetap harus waspada.

Marketwatch.com

 

Salam

Hanya Sekadar Berbagi

Diarysaham.com

 

 

Bagikan Jika Bermanfaat
Share on Facebook
Facebook
4Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on LinkedIn
Linkedin
Pin on Pinterest
Pinterest
1
Posted in Artikel Ekonomi lain and tagged , , , .