Lira turki ambruk

Mengapa Lira Turki Ambruk?

Nilai tukar Lira Turki ambruk sebesar 18% Jumat lalu. Hal ini diakibatkan oleh cuitan Trump yang mengancam akan melipatgandakan tarif bagi aluminium dan baja asal Turki.

Cuitan ini disebabkan oleh adanya ketegangan hubungan Amerika Serikat dan Turki akibat Andrew Brunson seorang pendeta asal AS yang dipenjara di Turki. Tuduhan yang dihadapi oleh Brunson adalah keikutsertaan dalam usaha kudeta terhadap Erdogan beberapa waktu yang lalu.

Apakah ini penyebab ambruknya Lira?

Kalau menurut Erdogan inilah alasannya, AS menyerang Turki secara ekonomi yang menyebabkan nilai tukar Lira melemah 40% dihitung dari awal tahun.

Erdogan telah meminta kepada rakyat Turki dan pendukungnya untuk menukarkan US$ dan Euro ke Lira demi menahan jatuhnya Lira.

Namun ada beberapa hal lain yang menyebabkan Lira Ambruk

  1. Turki berkembang pesat secara ekonomi beberapa tahun terakhir. Namun tidak seperti China yang berkembang melalui ekspor yang tinggi dan menghasilkan devisa. Turki mengandalkan pinjaman asing untuk membiayai pertumbuhannya dan para pengusaha Turki juga banyak melakukan pinjaman asing. Pinjaman ini terutama ke bank di Eropa.
  2. Sekarang ini inflasi Turki mencapai lebih dari 15% tiga kali lipat dibandingkan dengan target pemerintah. Imbal hasil surat utang Turki melejit dan hal ini adalah salah satu faktor penyebab ambruknya Lira.
  3. Seharusnya bank sentral Turki meningkatkan suku bunga atau mirip dengan yang dilakukan oleh BI untuk menjaga nilai tukar Lira dan mendinginkan ekonomi. Tetapi malah Erdogan menekan bank sentral untuk tetap mempertahankan bunga murah untuk mendanai proyek-proyek infrastruktur.
  4. Kepercayaan investor ke Turki dan Erdogan semakin berkurang lagi setelah Erdogan sehabis menang dalam pemilu, menunjuk Berat Albayrak menantunya sebagai menteri keuangan.

Cuitan Trump adalah pendorong terakhir yang menyebabkan Lira Turki semakin ambruk nilai tukarnya.

Ambruknya nilai tukar Lira memang akan mempengaruhi nilai tukar mata uang negara berkembang lainnya. Seperti rupiah yang hari ini menyentuh Rp 14.600 per US$ dan IHSG yang turun sebesar 3,5%.

Namun menurut saya hal ini hanyalah kepanikan sesaat. Tensi ketidakpastian global yang tinggi  ditambah dengan ketakutan akan siklus krisis ekonomi 10 tahunan menyebabkan hal ini terjadi. Baik investor asing dan domestik mengalami kepanikan yang sama.

Jika kita bandingkan inflasi Indonesia ada di kisaran 3,5% dalam tiga tahun terakhir sehingga jauh jika dibandingkan dengan Turki yang mencapai 15%. Namun defisit neraca pembayaran yang mencapai 3% dibandingkan PDB memang patut menjadi perhatian.

Belum ada berita gagal bayar Turki dan juga belum ada berita kerugian bank Eropa akibat utang Turki menjadi petunjuk bahwa memang krisis ini baru dialami oleh Turki. Belum menyebar ke negara lain.

Tahun ini ada dua negara lain yang patut menjadi perhatian selain Turki yaitu Argentina dan Venezuela.

Referensi : Bloomberg.com

Salam

Hanya sekadar berbagi

Diarysaham.com

Bagikan Jika Bermanfaat
Posted in Ekonomi Terkini and tagged , , , , .

@Pseudonym | Love To Read | Try To Write
Observant