IHSG

Apakah Penyebab Ambruknya Pasar Modal? IHSG 4 Mei 2018

Ambruknya Pasar Modal

Analis Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar, mengatakan, salah satu pemantik kecemasan tersebut adalah defisit neraca perdagangan Indonesia dan kenaikan imbal hasil US Treasury. “Jika mau menarik lagi arus modal asing ke Indonesia, imbal hasil obligasi di Indonesia harus naik. Jika tidak naik, mata uang bisa dilemahkan,” ujar dia kepada Kontan.co.id (Kamis 3 Mei 2018)

Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail menyebut, tekanan sentimen negatif rupiah cukup besar. “Ada ketakutan rupiah melemah lagi karena harga minyak yang tinggi, sementara harga CPO dan batubara belum terlihat naik,” ujar dia. Dus, pasar berasumsi neraca dagang Indonesia bakal kembali defisit di kuartal ketiga dan keempat tahun ini.

Kontan.co.id

Menurut pendapat saya hal ini terjadi lebih karena ketakutan pada siklus krisis ekonomi 10 tahunan.

Baca “Pengaruh Ketakutan Siklus Krisis Ekonomi ke Pasar Modal

Dengan berakhirnya era uang murah yang ditandai berakhirnya suntikan dana oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Quantitative Easing) dan juga membaiknya ekonomi Amerika Serikat yang menyebabkan the Fed mulai meningkatkan suku bunga agar kembali normal.

Adalah sebuah keniscayaan bahwa dana asing balik ke negaranya masing-masing. Menurut saya sebagian dana asing yang digunakan untuk berinvestasi di pasar modal adalah dana pinjaman dengan bunga yang sangat murah. Bahkan hampir mendekati 0%.

Ditambah dengan menguatnya US$ terhadap hampir seluruh mata uang dunia, membuat kekhawatiran bertambah. Donald Trump juga tidak membantu dengan ancaman untuk melakukan perang dagang terhadap China.

Tetapi kalau dilihat dengan mata yang jernih dan usaha mengenyahkan ketakutan terhadap siklus krisis ekonomi 10 tahunan. Sebenarnya saat ini dunia dan Indonesia yang berada di dalamnya tidaklah memiliki alasan yang sangat kuat untuk mengalami ambruknya nilai pasar modal.

US$ yang menguat terhadap Rupiah memang kelihatannya menakutkan. Tetapi apakah memang sebegitu menakutkannya?

Tetapi selaku pelaku pasar modal. Tidak mungkin untuk bisa melawan dengan tekanan jual yang dilakukan oleh sebagian besar pelaku pasar.

Mencari kemungkinan untuk mendapatkan saham dengan harga yang murah, adalah hal yang sangat bisa dilakukan.

 

IHSG 4 Mei 2018

IHSG turun sebesar 1,14% ke level 5.792. Total transaksi sekitar 6,47 triliun Rupiah dengan volume sekitar 73,97 juta lot saham yang ditransaksikan.

Asing mencatatkan net sell di seluruh pasar sekitar Rp.842,5 miliar.

Saham dengan peningkatan tertinggi (value):

  1. INDR naik sebesar Rp. 470 ke Rp 1.970
  2. RDTX naik sebesar Rp. 300 ke Rp. 5.500
  3. IMAS naik sebesar Rp 250 ke Rp. 2.610

Saham dengan peningkatan tertinggi (persentase):

  1. KOBX naik 25% ke Rp 260
  2. INDR naik 25% ke Rp. 2.350
  3. DFAM naik 22,66% ke Rp. 498

Saham dengan penurunan tertinggi (value)

  1. GGRM turun sebesar Rp. 1.775 ke Rp. 67.200
  2. BLTZ turun sebesar Rp.700 ke Rp. 8.500
  3. FISH turun sebesar Rp. 540 ke Rp 1.760

Saham penurunan tertinggi (persentase):

  1. FISH turun 23,47% ke Rp 1.760
  2. TALF turun 15,08% ke Rp 304
  3. XISC turun 13,15% ke Rp 700

Volume, Nilai dan Frekuensi  Transaksi Tertinggi

RIMO mencatatkan volume transaksi tertinggi hari ini dengan volume 7,42 juta lot saham yang diperdagangkan. IIKP ada di posisi kedua dengan volume 3,29 juta lot saham diperdagangkan. Sedangkan posisi ketiga ditempati oleh BUMI dengan volume 3 juta lot saham diperdagangkan.

Nilai tertinggi perdagangan saham hari ini adalah BBRI yaitu sekitar Rp. 555,59 miliar nilai saham yang diperdagangkan. BBCA mencatatkan nilai kedua tertinggi yaitu sekitar Rp. 326,93 miliar dan TLKM menduduki posisi ketiga dengan nilai Rp. 300,76 miliar.

Frekuensi perdagangan tertinggi hari ini berurutan, BMTR (14.866 kali), BBRI (12.808 kali) dan ADRO (9.373 kali)

Rupiah menguat dan berakhir di posisi Rp. 13.935 dibandingkan dengan US$.

Indeks saham Nikkei Jepang tutup

Indeks saham Hang Seng Hong Kong turun sebesar 1,28% ke posisi 29.926

Saham Salah Harga

Ada beberapa saham yang menurut saya salah harga, dengan kriteria PBV dibawah satu dan PER di bawah sepuluh. Beberapa yang masuk ke dalam kategori

ASRI dengan PER 5,3 dan PBV 0,9

Saham Potensial

Beberapa saham yang bisa diperhatikan untuk besok : IMAS

 

Salam

Hanya Sekadar Berbagi

Diarysaham.com

Bagikan Jika Bermanfaat
Posted in Saham Indonesia and tagged , , , .