Mengenal Lebih Jauh tentang Transaksi Non Tunai di Dunia

 

Bank Indonesia, sedang berusaha untuk meningkatkan transaksi non tunai di Indonesia. Jika transaksi non tunai meningkat maka kebutuhan uang tunai masyarakat akan menurun. Hal ini bisa menurunkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mencetak dan mendistribusikan uang tunai. Selain itu pengawasan dan kontrol terhadap peredaran uang di Indonesia akan menjadi lebih mudah.

Tiongkok, mungkin bisa dijadikan sebuah contoh kesuksesan dalam perubahan tren transaksi. Dari tunai menjadi non tunai.  Ali pay dan Wechat pay adalah dua perusahaan penguasa pasar jasa transaksi non tunai.  Alipay menguasai sekitar 54% pangsa pasar sedangkan Wechat pay memiliki 40% pangsa pasar. Ali pay dan Wechat pay boleh dibilang bisa digunakan untuk segala macam transaksi. Membayar makan di restoran (pengalaman saya KFC Tiongkok juga sudah menerima), menyewa sepeda, belanja di Supermarket, membayar tagihan, transfer uang dan lainnya. Bahkan sekarang ini ada istilah ” Tak mengapa ketinggalan dompet, tapi jangan sampai ketinggalan Handphone”

Sebelum tahun 2014, Alipay adalah penguasa pasar jasa transaksi non tunai dengan pangsa pasar sekitar 80%. Pada tahun itu Wechat pay meluncurkan “Hung Bao” atau ” Red envelopes” pada masa imlek. Tradisi Tiongkok dalam merayakan imlek salah satunya adalah memberikan Hung  Bao atau lebih dikenal dengan istilah Ang Pao di Indonesia kepada anak kecil, orang tua ataupun orang lain yang mungkin menjadi karyawan atau bawahan.  Dengan fitur ini, Wechat pay memberi kemudahan bagi orang untuk membagi Ang Pao. Tidak perlu lagi mencari uang baru ataupun membungkus uang tersebut ke dalam Ang Pao (amplop merah).

Satu bulan setelah diluncurkan, jumlah pengguna Wechat pay bertumbuh dari 30 juta menjadi 100 juta. Pada tahun 2016,  3.2 Milyar Ang Pao digital dikirimkan melalui Wechat Pay. Ali pay terpukul, bahkan Jack Ma (pendiri Alibaba Group) mengatakan peluncurkan fitur Hung Bao bagaikan peristiwa “Pearl Harbor” bagi Ali pay. Ali pay akhirnya juga memberikan fitur yang sama bagi para penggunanya.

Swedia adalah negara dengan transaksi non tunai tertinggi.  Jumlah uang tunai yang beredar hanya berkisar sekitar 1,7% dari PDB..  Banyak dari cabang bank di Swedia sudah tidak lagi mengurusi uang tunai. Donasi di gereja juga sudah dilakukan non tunai, saat kolekte tiba, banyak orang mengacungkan Handphone mereka sebagai tanda mereka ingin berdonasi.

Kesulitan dalam meningkatkan transaksi non tunai di Indonesia adalah masih banyaknya rakyat yang tidak memiliki rekening bank. E Commerce di Indonesia juga masih mengalami kesulitan untuk dapat melakukan transaksi digital sepenuhnya. Pelaku E Commerce sebenarnya ingin agar sebuah transaksi diselesaikan dalam platform mereka, untuk mencegah batal. Namun karena masih banyak orang Indonesia yang tidak memiliki rekening bank atau kartu kredit memaksa pelaku E commerce di Indonesia untuk memberikan alternatif pembayaran lain, seperti bayar di minimarket  sampai dengan pembayaran pada saat barang dikirim ke alamat.

Bagi pemerintah semakin banyaknya transaksi non tunai akan menguntungkan. Semua data transaksi akan tercatat sehingga akan lebih mudah dalam mengejar transaksi ilegal seperti korupsi, pengedaran Narkoba dan juga mengejar pengemplang pajak. Bagi pengusaha ritel juga menguntungkan karena akan mengurangi risiko dan biaya untuk mengelola uang tunai. Juga akan sangat menguntungkan bagi penerbit kartu kredit dan perusahaan jasa transaksi non tunai.

Pemerintah India sempat mencoba mengurangi peredaran uang tunainya secara drastis pada tahun 2016. Dengan menarik uang  tunai dengan denominasi 1000 Rupee dan 500 Rupee yang merupakan 86% jumlah uang tunai yang beredar. Terjadi kekacauan, orang mengantri di bank untuk menukarkan uang. Banyak pekerja informal yang tidak bisa memperoleh gaji. Jutaan orang miskin tidak bisa membeli makanan dan masih banyak lagi kejadian.

Pengalaman India bisa dijadikan pelajaran bahwa untuk mengubah budaya tunai menjadi non tunai butuh waktu dan proses yang tidak sebentar serta mudah.

Dalam memberikan subsidi kepada rakyat yang kurang mampu, pemerintah Indonesia sudah mulai melakukannya dengan metode non tunai. Seperti Kartu Jakarta/Indonesia Pintar atau Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Keluarga Sejahtera. Penggunaan metode non tunai ini akan mengurangi risiko dana subsidi yang tidak sampai ke masyarakat, karena semuanya langsung tercatat di kartu. Selain itu juga bisa meningkatkan penetrasi perbankan ke masyarakat, mengingat tanpa bantuan pemerintah sulit bagi masyarakat miskin untuk dapat memiliki rekening bank.

Wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, menyebabkan sulitnya distribusi uang tunai. Sehingga sering terjadi masyarakat di perbatasan menggunakan mata uang negara tetangga untuk transaksinya. Saya pikir transaksi non tunai bisa dijadikan solusi untuk mengatasi ini.

Dengan semakin mudahnya untuk melakukan pembayaran menggunakan transaksi non tunai. Perdagangan antar pulau di Indonesia juga akan meningkat.

Referensi :   Bloomberg 1Bloomberg 2;  Forbes.com;   Wechat pay by WikipediaAlipay by Wikipedia

Salam

Hanya sekadar berbagi

Diarysaham.com

Artikel ini pernah ditayangkan di Kompasiana oleh Ronald Wan

Sumber gambar https://www.activistpost.com

Bagikan Jika Bermanfaat
Posted in Ekonomi Terkini and tagged , , , , .