Diarysaham.com

Pasar Saham 28 Maret 2018 dan Beruang yang Mungkin akan Mengamuk

Pasar Saham 28 Maret 2018

Pasar saham atau IHSG ditutup melemah 1,1% ke level 6140, total transaksi sekitar 22,2 triliun Rupiah dengan volume sekitar 213 juta lot saham yang ditransaksikan. Transaksi cukup tinggi karena adanya aksi tutup sendiri MEDC senilai Rp. 16 triliun

Asing mencatatkan net sell sekitar Rp.697 Milyar

Rangking saham dengan peningkatan tertinggi (value):

  1. GMTD naik sebesar Rp. 1.000 ke Rp 13.000
  2. SMAR naik sebesar Rp. 600 ke Rp. 4.100
  3. JECC naik sebesar Rp 500 ke Rp. 5.000

Rangking saham dengan peningkatan tertinggi (persentase):

  1. JSKY naik 50 % ke Rp.600
  2. HELI naik 34,75% ke Rp. 252
  3. ESTI naik 34,72% ke Rp. 97

Rangking saham dengan penurunan tertinggi (value)

  1. ITMG turun sebesar Rp. 1.450 ke Rp. 28.125
  2. INTP turun sebesar Rp. 925 ke Rp. 16.475
  3. UNVR turun sebesar Rp. 600 ke Rp 49.400

Rangking saham peningkatan tertinggi (persentase):

  1. ARTO turun 28,99% ke Rp 142
  2. PNSE turun 24,59% ke Rp 920
  3. TAXI turun 23,72% ke Rp 135

 

MYRX hari ini masih mencatatkan transaksi terbesar secara volume dengan 4 juta lot saham yang ditransaksikan. IIKP hanya kalah tipis dengan volume 3,5 juta lot saham dan posisi ketiga dipegang oleh RIMO dengan volume 3,2 juta lot saham.

Nilai tertinggi perdagangan saham hari ini adalah BBRI yaitu sekitar Rp. 348 milyar nilai saham yang diperdagangkan. TLKM juga mencatatkan nilai yang cukup tinggi yaitu sekitar Rp. 300 milyar dan BMRI mengikuti pada posisi ketiga dengan nilai sekitar Rp. 297 milyar.

Frekuensi perdagangan tertinggi hari ini berurutan, INPC (22.559 kali), BBRI (11.527 kali) dan BUDI (10.707 kali)

Rupiah melemah dan berakhir di posisi Rp. 13.760 dibandingkan dengan USD.

Indeks saham Nikkei Jepang turun lumayan yaitu  sebesar 1,34% ke posisi 21.031

Indeks saham Hang seng Hong Kong turun cukup dalam yaitu sebesar 2,5% ke posisi 30.022

Beruang yang mungkin akan mengamuk

Semalam Dow Jones turun sekitar 345 poin. Penyebab utamanya adalah merosotnya saham-saham teknologi seperti Facebook dan Nvidia. Facebook kita ketahui sedang menghadapi masalah bocornya data pengguna.

Saham Nvidia rontok disebabkan oleh penundaan proyek mobil autonomous, sehingga dianggap prospek Nvidia menurun.

Kedua sebab ini seharusnya tidak mempengaruhi bursa Asia. Namun ternyata psikologi tetap berpengaruh. Mengingat beberapa waktu ini bursa Asia termasuk Indonesia, selalu mengekor ke Dow Jones.

Tetapi ada sebuah berita yang menarik di CNBC, komputer model Goldman Sachs memprediksi bahwa bursa akan segera memasuki kondisi bearish. Walaupun beberapa analis tidak mempercayainya.

Apakah ini akan terjadi?

Pelaku pasar telah menikmati kenaikan bursa sejak tahun 2009. Tetapi di sisi lain ada sejarah bahwa setiap 10 tahun, yang jatuhnya pada tahun 2018. Bursa akan mengalami koreksi tajam.

Ditambah dengan kabar bahwa proteksionisme Amerika Serikat meningkat. Menambah risiko ekonomi dunia. Selain naiknya suku bunga AS dan masalah geopolitik di Korea dan Timur Tengah.

Masalah Korea sudah mulai mereda dan kemungkinan perang dagang juga mulai sedikit mereda. Namun semua ini belumlah membuat pelaku pasar lega. Sehingga banyak yang menahan diri.

Risiko memang selalu ada dan yang perlu dilakukan adalah tetap waspada. Siap sedia menghadapi risiko beruang yang mungkin akan berkuasa.

 

Salam

Hanya Sekadar Berbagi

Diarysaham.com

Bagikan Jika Bermanfaat
Posted in Saham Indonesia and tagged , , , , .

@Pseudonym | Love To Read | Try To Write
Observant