perangdagang

Perang Dagang dan USD 470 Milyar yang Akan Hilang

Diarysaham Donald Trump dan pemerintah Amerika Serikat (AS), telah mengeluarkan sebuah aturan tarif yang baru. Aturan tarif ini ditujukan kepada China dengan target kepada sekitar USD 50 milyar nilai barang yang diimpor ke AS dari China.

Aturan ini dikenakan terhadap China karena China dianggap telah melanggar hak intelektual AS. Sejauh pengamatan saya ini adalah sebuah aturan tarif yang ketiga yang dikeluarkan oleh AS untuk mengurangi defisit perdagangan. Setelah sebelumnya tarif untuk mesin cuci, panel tenaga matahari diikuti oleh tarif untuk besi baja dan aluminium.

Eropa jika tidak dikecualikan akan membalas dengan tarif atas barang-barang populer AS. Antara lain Levi’s dan Harley Davidson. China masih menahan diri kelihatannya dengan hanya mempersiapkan kenaikan tarif untuk sekitar USD 3 milyar barang yang diimpor dari AS.

Membaca harian Kontan pagi ini. Selain tarif China juga mengancam akan mengurangi pembelian surat utang AS, bahkan akan menghentikannya jika perlu. Perlu diingat saat ini China merupakan pemegang surat utang AS paling besar.

Di tengah kenaikan defisit belanja negara, yang antara lain disebabkan oleh diturunkannya tarif pajak perusahaan dan pribadi di AS. Walaupun beberapa analis menilai, untuk pribadi tidak terlalu berpengaruh. Ancaman China ini, cukup membahayakan.

Tanpa menerbitkan surat utang baru, bagaimana AS bisa membiayai negaranya. Defisit ini diperkirakan akan bisa mencapai USD 1,5 triliun dalam waktu 10 tahun.

Perang dagang dan ekonomi dunia

Dewasa ini hampir boleh dikatakan bahwa seluruh negara di dunia saling berhubungan ekonominya. Negara yang tertutup seperti Korea Utara saja masih membutuhkan pasar dunia. Venezuela hampir bangkrut walaupun memiliki cadangan minyak yang sangat besar. Boleh dikatakan salah satu faktornya adalah embargo dari AS dan sekutunya.

Kalau melihat keadaan sekarang ini, AS masih sekedar coba-coba dan negara lain termasuk China juga masih mencoba menduga-duga arah kebijakan AS. Namun pasar finansial dunia termasuk Indonesia, sudah merasakan efeknya. Berdarah-darah dalam sekitar 1 minggu yang lalu dan masih belum kembali normal.

Jika benar terjadi perang dagang dalam skala penuh maka menurut Bloomberg. Ekonomi dunia bisa kehilangan sekitar USD 470 milyar pada tahun 2020. AS pun tidak bisa menikmati kemenangan atas perang dagang yang terjadi. Ekonomi AS diperkirakan bisa menyusut sekitar 0,9% pada tahun 2020.

Sebenarnya jika melihat sejarah, AS seharusnya bisa belajar. Pada tahun 1930 Kongres AS menetapkan tarif bagi seluruh produk impor, dengan alasan yang sama dengan Trump. Yaitu untuk melindungi pekerja domestik.

Yang terjadi adalah, bukannya AS keluar dari depresi ekonomi lebih cepat. Namun malah memperburuk keadaan. Salah satu balasan yang paling terasa adalah dari Kanada yang meningkatkan bea masuk telur. Dari 3 sen menjadi 10 sen per lusin. Ekspor telur AS ke Kanada menurun dari 919.000 lusin pada tahun 1929 menjadi hanya 7900 lusin pada tahun 1930

Nilai USD 470 milyar itu adalah nilai ekonomi dunia. Indonesia pun tidak bisa terlepas dari ekonomi dunia. Minimal dengan pelambatan ekonomi dunia, harga komoditas yang masih menjadi andalan ekspor akan merosot.

Walaupun menurut beberapa pengamat, ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan. Antara lain adalah menggantikan barang-barang China yang dikenakan tarif. Sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan.

Perang dagang akan memberi dampak yang buruk termasuk kepada negara yang memulainya. Hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat adalah mempersiapkan diri untuk mengambil peluang. Serta tidak kalah penting adalah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.

Semoga tidak terjadi perang dagang skala penuh.

Referensi : Bloomberg   ;   CNNmoney

Salam

Hanya Sekedar Berbagi

Bagikan Jika Bermanfaat
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Posted in Ekonomi Terkini and tagged , , , .

@Pseudonym | Love To Read | Try To Write
Observant